Indonesia Impor Produk Pertanian?
Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Bahkan sampai ada musisi tanah air yang mendendangkan Indonesia sebagai negeri surga dimana tanahnya subur dan memiliki lautan yang luas. Karena itu, bila kemudian Indonesia diberitakan mendapat masalah dalam pengadaan produk pertanian jelas akan dianggap suatu hal yang aneh. Tidak bisa diterima akal sehat tentunya. Akan tetapi, begitu menengok sektor agrobisnis negara tetangga yakni Thailand nyatanya malah membuat geleng-geleng kepala.

Dengan kekayaan alam yang dimiliki, seharusnya Indonesia tampil sebagai pemain terbesar khususnya dalam sektor pertanian. Produk pertanian dan tanaman pangan mestinya bukan masalah. Hasil laut juga bisa dibanggakan. Apalagi hasil perkebunan dan hutan. Misal ada berita Indonesia mengimpor 80% komponen otomotif hal tersebut masih dapat dimaklumi. Tetapi bagaimana bila beras, jagung, dan produk pertanian lain harus diimpor dari negara yang notabene lebih kecil seperti Thailand?

Thailand didapati berhasil dalam membangun pertanian. Bahkan Thailand terus aktif dalam kegiatan ekspor beras, jagung, hortikultura, gula, dan produk pertanian lainnya. Tidak hanya itu saja. Thailand juga mampu menjual sektor pertanian untuk pariwisata meskipun lahan yang tersedia tidak begitu luas. Namun, mengapa Thailand bisa lebih maju produk pertaniannya dibanding Indonesia?

Bank Khusus Pertanian Milik Thailand
Bila dilakukan perbandingan, Thailand memang lebih maju produk pertaniannya dibanding Indonesia. Kenyataan ini tentu cukup miris mengingat Thailand belajar banyak dari Indonesia pada era 1980-an. Bustanul Arifin, seorang pengamat Ekonomi Pertanian dari Universitas Lampung, memberikan penilaian bahwa keberhasilan Thailand dalam upaya pengembangan pertanian karena memiliki bank khusus pertanian, bank eksim atau bank ekspor-impor.

Belajar dari Indonesia Tapi Sektor Agrobisnis Thailand Lebih Maju

Belajar dari Indonesia Tapi Sektor Agrobisnis Thailand Lebih Maju

Adapun yang dimaksud bank khusus yaitu bank-bank yang memiliki tugas khusus. Maksudnya bank khusus sifatnya sebagai agen pengembangan yang mana masih mendapat sumber dana dari dana pihak ketiga seperti sebagian besar lembaga perbankan yang ada sekarang ini.

Sebelumnya Indonesia memiliki BRI. Sayangnya Indonesia malah tidak mempertahankan kunci sukses sektor pertanian tersebut. Menurut Bustanul Indonesia meninggalkan metode bank khusus pertanian karena sempat didapati beberapa praktik manajemen yang bermasalah, khususnya berkaitan dengan penyaluran.

Bila berkaca dari sejarah, jelas Indonesia jauh lebih baik dibandingkan Thailand. BRI dulunya sempat berjaya dengan keberhasilan mengembangkan simpedes.

Hanya saja ada kekhawatiran pada praktik manajemen yang berlangsung selama beberapa waktu. Masih didapati banyak masalah pada penyaluran. Oleh karena itu, otoritas perbankan dalam negeri waktu itu dirasa membutuhkan pengembangan gagasan anyar seperlu mendidik ulang para bankir supaya bisa lebih memahami dan mengerti sektor pertanian.

Maksudnya masih dibutuhkan terobosan dan keberanian pemihakan kebijakan perbankan yang mana bisa lebih pro dengan pertanian. Sebut saja misalnya lewat peraturan BRI yang mampu mendorong pemberian insentif kepada perbankan yang sukses membangun unit khusus R&D yang berfokus dalam pengembangan pertanian.
Meskipun Indonesia memiliki modal awal yang lengkap, ternyata tidak lantas menjamin 100% memuluskan Indonesia sebagai negeri dengan pertanian terbesar baik di dunia atau di ASEAN untuk skala kecilnya.

Modal sudah cukup, tetapi sejauh mana kemauan mengembangkan pertanian dalam negeri menjadi lokomotif ekonomi masih gamang. Bila diingat-ingat kembali hampir semua kandidat calon presiden negeri ini menyerukan sektor pertanian dalam modal kampanye. Namun, kenyataannya belum ada hasil pasti. Indonesia sampai saat ini belum percaya diri mengusung sektor pertanian menjadi prioritas yang diunggulkan dalam pembangunan. Membangun sektor pertanian memang bukan pekara mudah. Bila sudah demikian, tentu tidak perlu malu bila kini giliran Indonesia yang mesti banyak belajar dari Thailand.

Facebook Comments