Kekurangan Sistem Transportasi di Indonesia
Transportasi merupakan suatu proses perpindahan orang atau barang dari satu tempat ke tempat yang lain dengan suatu teknik untuk maksud tertentu. Kemampuan manusia untuk bergerak dan berpindah dalam kecepatan atau daya angkut memang terbatas. Sehingga dibutuhkan alat angkut yang memadai sesuai dengan kebutuhan. Alat angkut yang dimaksud dimanfaatkan sebagai sarana seperlu meningkatkan daya angkut manusia yang biasa disebut kendaraan atau moda transportasi. Moda transportasi sendiri selanjutnya dapat dipilah berdasar kesamaan sifat dan tempat pergerakannya menjadi moda transportasi darat, laut, dan udara.

Membicarakan sistem transportasi di Indonesia sebenarnya sudah bisa dibilang cukup lengkap. Mulai dari transportasi darat, laut, dan juga udara semua tersedia. Namun, di balik sarana yang cukup lengkap tersebut masih ditemui beberapa permasalahan yang menjadi kelemahan dari sistem transportasi tanah air. Sebut saja mulai dari kemacetan, polusi udara, polusi suara, kecelakaan lalu lintas, dan juga tundaan atau bertambahnya waktu tempuh perjalanan.

Kerugian Akibat Kemacetan
Adapun dari sejumlah permasalahan sistem transportasi di Indonesia, kemacetan menjadi satu momok yang memberikan dampak cukup merata. Kemacetan sudah menjadi satu masalah yang dialami sejak beberapa dekade terakhir. Namun, kemacetan yang terjadi sekarang ini terasa makin parah, terutama di wilayah kota besar seperti kota Jakarta. Dalam hal ini BKM PII beberapa tahun lalu pernah mengadakan diskusi Peer Group Discussion. Dalam acara tersebut dipaparkan bahwa sejumlah kemacetan terjadi di banyak kota besar di Indonesia. Tidak main-main kemacetan yang terjadi sampai menyebabkan kerugian finansial sebesar 46 triliun setiap tahunnya.

Dari hasil diskusi tersebut disepakati bahwa Indonesia sebenarnya membutuhkan sistem transportasi yang menjanjikan kecepatan tinggi, lebih dari 200 km per jam, khususnya untuk transportasi darat. Hal ini seperlu menangani volume material dan juga penumpang supaya bisa menangani pertumbuhan ekonomi setidaknya dalam jangka waktu 25 tahun ke depan.

Baca Juga : Krisis Energi Bikin Mobil Listrik Kembali Populer dan Diminati

Beralih ke sistem transportasi darat khusus kereta api, sampai saat ini masih bertahan pada kecepatan maks 100 km/jam atau dengan rerata 60 km/jam. Sempat diajukan usul Maglev atau Magnetic Levitation. Maglev merupakan wahana transportasi yang memiliki basis aplikasi medan magnet. Wahana yang dimaksud didesan sedemikian rupa tidak menyentuh rel, melainkan hanya melayang pada jarang tertentu di atas rel secara stabil dan terkendali. Sistem anyar ini ramah lingkungan dengan kebutuhan biaya pemeliharaan yang terbilang rendah. Maglev digadang-gadang mampu bergerak hingga 500 km/jam. Sistem bisa diintegrasikan dengan sistem kereta api yang sudah dikembangkan sekarang ini atau sistem jalan tol dalam transportasi multi moda.

Prihatin Kekurangan Sistem Transportasi di Indonesia2

Magnetic Levitation

Selain itu, konsumsi energi juga terbilang hemat hanya seperlima dari konsumsi energi truk dan mobil atau sepertiga dari kereta api biasa. Biaya pengoperasian dan perawatan bisa dibilang hemat karena tidak ada gesekan roda sama sekali. Sementara untuk biaya investasi dihitung-hitung tidak lebih mahal dari pembiayaan jalan tol atau kereta api biasa.

Bila nantinya rencana tersebut bisa terealisasi mungkin benar dapat menekan angka kemacetan yang telah merugikan negara sampai triliunan rupiah dan membuat prihatin. Namun, apakah Indonesia benar-benar siap menerapkan sistem anyar yang terbilang canggih tersebut? Sementara bila menengok pada rencangan sistem transportasi yang sudah diterapkan di ibukota, nyatanya sampai saat ini masih belum memberi hasil yang memuaskan. Tapi tentu semua tetap mengharapkan adanya perbaikan dalam sistem transportasi di Indonesia. Terutama transportasi umum, sehingga masyarakat akan tertarik menggunakan transportasi umum yang tersedia.

Facebook Comments