oleh: TUI (Kontributor Gamadaz)

Sejak tahun 1920, masyarakat Indonesia banyak yang telah menggunakan lampu Petromax, apalagi saat listrik belum dapat dinikmati masyarakat luas. Petromax merupakan suatu merek lampu pijar ciptaan Max Graetz, Berlin – Jerman yang dipatenkan tahun 1910. Keunggulan dari lampu ini adalah mampu menghasilkan cahaya putih dan terang dengan konsumsi minyak yang sedikit. Apa rahasianya?

Hingga saat ini, bagaimana membuat cahaya yang dihasilkan berwarna putih dan terang masih menjadi rahasia perusahaan dan tidak dipublikasikan luas. Tetapi, jika kita searching dengan keyword “gas mantling”, ternyata terungkap rahasia tersebut adalah dengan mencelup kaus lampu Petromax dengan larutan 99% Thorium Dioxide dan 1% Cerium Dioxide. Bila dikaji lebih dalam, bahan bakar berupa minyak tanah yang dikabutkan akan membakar kaus lampu / mantle sehingga saat terbakar, mantle akan mencapai temperature 800oC dan Thorium akan bereaksi menghasilkan cahaya putih. Jadi, penyebab terang putih adalah reaksi Thorium yang menghasilkan radioisotop partikel alpha. Radiasi yg dihasilkan sangat rendah. Sebagai pembanding, X-Ray dada menghasilkan 10 milirem (satuan radiasi), CT Scan seluruh tubuh 1000 milirem, background radiation (radiasi bumi, matahari, perangkat elektronik harian, dll) selama setahun adalah 240 milirem. Sementara pemakaian Petromax tiap hari dalam setahun hanya 2,2 milirem, sehingga sangat aman.

Unsur Thorium

Unsur Thorium


Bola dalam genggaman tangan diatas dapat memberikan listrik untuk rumah anda selam 100 tahun lebih. Atau sebesar bola basket dapat mengaliri listrik kota selama satu tahun. Unsur materi diatas adalah Thorium.

Thorium adalah sebuah unsur dengan no atom 90 yang mempunyai sifat radioaktif yang dapat dipakai sebagai bahan bakar reaktor nuklir. Thorium memiliki densitas energy yang tinggi. Sebagai pembanding, untuk menbangkitkan listrik sebesar 1000 MW selama 1 tahun dibutuhkan batubara sebesar 3,5 juta ton, atau 200 ton uranium. Hanya dibutuhkan 1 ton Thorium sebesar bola basket untuk menghasilkan listrik serupa . Menurut DR. Carla Rubbia, pemenang hadiah Nobel Fisika dan Direktur CERN,lembaga Riset Nuklir Eropa Beliau juga menyatakan dalam Konprensi Thorium Internasional 2013 : “Ada lebih dari 4500 kali lebih banyak energi yang terkandung dalam Thorium daripada seluruh sumberdaya energi fossil di gabungkan, yang membuat Energi Thorium berkelanjutan..” Beliau juga menyatakan mengatakan cadangan Thorium di bumi cukup memenuhi kebutuhan energy dunia selama 20.000 tahun ke depan. Di Indonesia, Thorium dapat di temukan di Bangka Belitung sebagai ikutan timah dan menurut Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) ada sekitar 121.500 ton cadangan Thorium di Babel (hanya Babel belum seluruh Indonesia) yang dapat memberikan daya 121 Gigawatt selama 1000 tahun (saat ini total produksi listrik Indonesia masih di bawah 40 Gigawatt). – Bicara tentang kemandirian energi dan ketahanan energi inilah jawabannya bukan batubara yang akan habis dalam 20 tahun atau gas yang akan habis dalam 38 tahun.

Kandungan Energi Thorium

Kandungan Energi Thorium


Thorium untuk pembangkit listrik bukan merupakan hal baru lagi. Salah satu teknologi yang telah dikembangkan adalah Thorium Molten Salt Reactor tahun 1965 dan telah beroperasi selama 20.000 jam dengan hasil memuaskan. Tetapi, saat itu telah terjadi perang dingin antara AS dan Uni Sovyet dan diperlukan pengembangan tenaga nuklir yang hanya dapat diperoleh dari pembangunan pabrik plutonium. Sementara TMSR tidak dapat menghasilkan plutonium sehingga tidak menjadi pilihan.
Reaktor Thorium

Reaktor Thorium


Secara umum, sedikitnya 25 perusahaan di 12 negara dunia yang mengembangkan TMSR. Saat ini, China dan India menjadikan thorium menjadi program energy nasioanl dan saling berlomba menjadi yang pertama. China telah membentuk Chinese Academy of Science sebagai pemimpin proyek TMSR. China berambisi mengoperasikan TMSR sebesar 100 MW pada 2020 dan 1000 MW pada 2030. Di India, dimotori oleh Bhabha Atomic Research Center (BARC) di Mumbai. Di Eropa, beberapa universitas membentuk konsorsium SAMOFAR yang dimotori oleh Technical University Delf, Belanda.

Dalam RUPTL PT PLN, diarahkan pada pembangkitan batu bara. Menurut laporan Greenpeace dengan judul “Ancaman Maut PLTU Batubara”, diperkirakan kematian dini di Indonesia akibat pencemaran batu bara ada sekitar 6500 kasus per tahun.

Bahaya PLTU Batubara

Bahaya PLTU Batubara


Hal yang sama juga terjadi di Amerika, kematian dini akibat pencemaran flyash batubara sekitar 13,000 per tahun seperti yang di laporkan oleh American Lung Association seperti juga di laporkan oleh Clean Air Task Force yang di bentuk oleh Presiden Obama dalam laporannya “The Toll From Coal : An Updated Assesment of Death and Disease From America’s Dirtiest Energy Source“. Ini merupakan potensi kendala dan ancaman yang harus ditangani agar diperoleh solusi yang terbaik dimana salah satu pilihannya adalah menggunakan TMSR.

Salah satu keunggulan terpenting dari TMSR adalah keekonomisan yang tinggi. Karena prinsip Modularity, Scalability menjadikan TMSR sebagai desain reaktor yang paling sederhana menjadikan biaya pembangunan murah bahkan lebih murah dari PLTU di perkirakan rata-rata dibawah USD 2,5 Juta per MW bandingkan dengan PLTN biasa yang di kisaran 7 – 8 Juta per MW . Di tambah harga thorium juga sangat murah dan efisiensi yang tinggi maka biaya produksi listrik TMSR tidak akan lebih dari USD 3 sen/kwh, sementara rata-rata biaya produksi listrik PLN saat ini di atas 10 – 12 sen dan tarif listrik di kisaran 9 sen maka dari tahun ke tahun subsidi listrik naik terus dan mungkin dapat membuat PLN menjadi untung karena selama rugi terus – Bayangkan pemerintah tidak perlu lagi mensubsidi PLN bahkan tarif listrik mungkin dapat turun.

Dalam buku putih Kementrian ESDM mengatakan, pada tahun 2025 tersedia energy litrik dari PLTN sebesar 5000 MW. Dari segala keunggulannya, TMSR yang masih dalam fase ‘sunrise’ technology, merupakan pilihan yang terbaik di antara technology PLTN lain yang telah memasuki fase ‘sunset’ technology.

Facebook Comments